Showing posts with label drama. Show all posts
Showing posts with label drama. Show all posts

Friday, 14 February 2014

Trying till Drop.

NO ONE FIGHTS ALONE - AMSA, BO FK Unsri

Yah. Maap lagi ya, baru sempet buka blog lagi. 
Ini juga karena pertanyaan imut adik tingkat, "Kakak belum nulis lagi?"
Ga tau juga sih, maksudnya dia, nulis materi agak berbobot atau nulis mabok atau malah curhatan galau. Yang penting sekarang aku nulis yaa, D, semoga bermanfaat :D

Ohiya, baru ada ide cemerlang nih, jadi pengen karokean sama ayam, biar ga kalah greget sama suara merdunya tiap pagi, maap udah mulai mabok, maklum baru pulang kuliah jam 5an.

Hari ini tanggal bagus loh, 14 Februari 2014, dan saya menyatakan saya sangat bahaaaaaaagia hari ini. 

Hari ini identik dengan hari Valentine, hari cinta kasih, hari saat semua orang berbagi kasih. Jadi pengen evaluasi diri deh. Mungkin saya sering mengeluh, betapa orang-orang tidak ada untuk saya, saya sendirian, tapi ternyata banyak cinta yang tercipta, bahkan khusus buat saya seorang. Cinta tulus, tanpa pamrih. 

Banyak banget yang bisa saya petik dan tanam lagi, untuk panen tahun depan (?) 

Saya fix senyum-senyum sendiri,
karena hari ini jam 6.30 lewat semenit, kekasih hati saya sudah berdiri di depan kosan sambil bawa teddy bear coklat yang imutnya kelewatan batas. Itu aja udah bikin saya kelojotan, untuk yang ga tau arti kelojotan, maaf folks, saya juga ga tau. Tapi masih ada lagi. Karya tangan *hand made* dari si dia. Gantungan kunci yang terbuat dari benang wol, dibuat 3 hari dengan tangis dan darah, serta jarum kasur. SAYA TERHARU BIRU. Makasih banget ya, K :) 

Tapi bukan ke kekasih aja nih, folks. Namanya juga cinta. Jelas harus mampir ke orangtua dulu dong, folks. Orangtua tersayang, yang sudah melahirkan, merawat, mendidik, membesarkan, mendidik lagi, mencintai, menerima kita apa adanya, membiayai, menangis, tertawa, marah, cuma buat kebaikan kita, masa iya bisa kita lupakan? Orangtua itu pahlawan dan penyelamat hidup senantiasa, mereka tidak terkalahkan. Jamin deh. Dibanding sama semua super hero yang ada di tipi-tipi, mereka jelas yang paling kuat, paling baik, dan selalu ada, bayangin, waktu kita bayi dan butuh bantuan untuk buang air besar, apa ada super hero yang mau bantu kita? 

Ga ada, folks. Cuma ada orangtua kita :)

Bersyukurlah, folks. Masih ada orang-orang yang mencintai kita apa adanya. 

Bahkan, teman-teman kita dari yang paling pendiam, iseng, tidak bisa diamm, sahabat, sampai yang paling menyebalkan pun, TERUS BAHKAN YA, sebenarnya orang-orang kurang suka dengan kita adalah orang yang paling memikirkan kita loh. Gimana engga. Ada muka kita kepampang luas dipikiran mereka.

Jadi santai aja, folks. Banyak kok cinta, buat kita. 

Ohiya, saya ada quote nih, biar kece bijak gimana gitu. Ini sering disebut dimana-mana sih. Tapi salah satunya di film drama, A Walk to Remember. FILMNYA BAGUS FOLKS, NONTON YA. Ini mungkin, arti cinta itu sendiri. 
"Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres."

Ohiya, soal cinta-cintaan juga nih. Kita juga bisa mengekspresikan cinta kita ke orang-orang yang paling membutuhkan. Sudah dengar Gunung Meletus di Sinabung, Medan? atau mungkin, Gunung Meletus di Kelud? Keduanya membutuhkan cinta kita, folks. Kita semua bersaudara dengan mereka. 

Apa salahnya membantu yang kesulitan? :) Toh, kita juga sering dibantu banyak orang. Setelah semua cinta dan kasih yang selalu kita terima, masih beratkah kita membantu sesama? Coba pikir lagi kawan, kalau kita merasa kesulitan sendiri, tidak ada yang mau membantu atau kita tidak meminta bantuan? :) 

Yaampun tulisan hari ini bijak tingkat kabupaten, panteslah dapet awards miss perdamaian. 

Stop talking, Start loving :)
@AngelaKarenS

Friday, 17 January 2014

Back to My History

Please say sorry when you knew it. 

YES. 
Maap, maap. Udah lama ga nulis, maap. 

Halo. Hello. Hola.
Jadi, singkatnya, saya sibuk, bukan mau sok sibuk sih. Tapi emang sibuk. 

Nafas aja susah, gampang sih, tinggal tarik buang tarik buang, alasannya simpel kebanyakan panggilan, folks. Kalau tidak ada syuting sama ayam tetangga, dengerin musik khas dari tangisan anak tetangga, ada job spesial buat tidur cantik di siang hari, atau kemungkinan besar sih.. nonton. IYA NONTON, BANYAK BANGET LOH FILM BARU YANG KECE. SERIUSAN, INI SAMA SEKALI BUKAN BERCANDAAN. Sengaja di caps lock biar lebih greget

Dari film horror Paranormal Activity : The Marked Ones, kesukaan KP yang di  Bogor, walau pas nonton ada refleks dewa, katanya, sampai film aksi, drama, komedi, sampai film lama semacam Titanic, The Pink Panther, dan Death Note masih saja bisa membuat saya tidak berkedip. 

Oh ya, ngomong-ngomong tentang tidak berkedip, saya lagi kena kelainan aneh nih, folks. Saya tidak bisa membuka mulut dengan maksimal, alias tidak bisa MANGAP. Sumpah, ini mengganggu, apalagi kalau mau senyum manis mempesona, jadi susah kan, padahal senyum ini modal luar biasa untuk kemajuan negara api. Entah kenapa, sejak sebulan yang lalu (bulan Desember 2013), EH SELAMAT TAHUN BARU YA!, itu saya tidak bisa buka mulut sempurna, awalnya hanya di pagi hari, tapi semakin lama sampai sore saya masih tetap mengalami kaku di rahang kiri. Kalau ada yang tahu ini kenapa, tolong kasih tau saya ya, kasian kan ayam tetangga, jadi ga bisa syuting. Ini ga nyambung sih sama tidak berkedip, sorry ya. 

Sebelum lupa nih, saya lagi LIBUR. HAHAHAHA. LIBUR MEN. Udah masuk kuliah lagi ya? Kasian. Saya masuk lagi sekitar 2 hari lagi. Liburan semester yang berjumlah 7 hari ini saya habiskan di rumah tercinta bersama dua orang kocak, baik, bijak, rajin menabung, tidak sombong, dan paling saya sayang, papa mama. Mah, jangan lupa tambahan selipannya ya, aku udah bilang baik tuh

Selama liburan ini, saya sibuk parah, dari guling-guling di tempat tidur orang tua sampai duduk seharian di kursi malas punya mama, enak banget folks, pantesan aja mama betah. Saya juga membantu dalam hal masak dan dimasak, lebih tepatnya, saya menjadi tim khusus memotong, mencincang, mengambil BAWANG, segala jenis bawang. Jadi, kalau butuh bantuan dengan bawang, hubungi saya ya. 

Kabar baik yang agak buruk lainnya adalah saya semakin cantik, sorry-sorry, bukan. Saya akan kembali ke Palembang 2 hari lagi dan berarti saya akan kembali ke rutinitas yang luar biasa padat, tapi kaya kata restoran fastfood terkenal itu, I'm Lovin it, tereteteteeeeeet #backsound. Saya akan kembali menuntut ilmu, belajar, dan tidur dengan rajin. Oh iya, pacaran juga deh, dengan tekun. Seperti kata pepatah, belajar nyenyak, tidur konsentrasi, thanks teman kelas yang jenius atas pepatah yang mencerahkan hidup

NAMUN SEKALI LAGI, saya bercanda kok. Saya serius belajar, folks. Saya ga kebayang kalau nanti saya harus berhadapan dengan pasien dan masih gagap, atau malah berubah sesi jadi curahan hati atau sesi termehek-mehek. Saya jelas akan mempermalukan Indonesia dan seluruh teman sejawat saya di dunia. Belajar seumur hidup, itulah yang harus kami lakukan, doctor and future doctor

Selamat datang 2014, selamat datang BPJS, sebuah sistem yang luar biasa baik namun kurang dalam pelaksanaannya, semoga bisa lebih baik lagi ya, pak menteri. Selamat datang matahari, selamat datang kehidupan. SELAMAT DATANG SEMANGAT BARU! Walaupun banyak kejadian luar biasa di awal tahun ini, contoh banjir dimana-mana, bencana alam, korupsi yang ketahuan, saya yang punya pacar, saya yang syuting sama ayam tetangga season 187, saya yang ga jadi potong rambut, dan masih banyak lagi kejadian luar biasa lainnya; mari bersyukur, mari mulai lagi baru lagi, mari raih kesempatan baru.

Semangat hap, hap.
Maaf kalau tulisan kali ini ada yang menyinggung, memang bermaksud begitu kok, eh, tidak bermaksud menyakiti, hanya kritik membangun. 

Love Out Loud :D
@AngelaKarenS


Tuesday, 5 March 2013

From Ear to Brain part I

"Lu salah. Dia g suka sama lu gitu aja. Perempuan jatuh hati pada percakapan pertama, Sob." -Arjuna sambil senyum membayangkan Desi.

Dika namanya. Pacar ganti-ganti, ga ada yang serius. Senyumnya manis kaya ubi gorengan yang biasa dijual di depan kampus. Playboy? engga kok. Dika g pernah pacaran sama lebih dari satu perempuan, yah, pendekatannya mungkin, agak bersinyal wi-fi

Rahma. Cewe, biasa aja. Sekian. Oh iya, dia pelihara kucing.

Singkat kata, Dika populer, Rahma engga. Dika berlari, Rahma duduk g peduli. Dika senyum, Rahma nengok ke belakang. Rahma nangis, Dika g tau. Dika nangis, seisi kampus tau. Rahma berduka, Dika tertawa. Now playing : Harus Terpisah-Cakra Khan

Hubungan mereka berdua dengan Desi dan Arjuna? (baca : From Heart to Heart) nanti juga tau. \

Engga, Rahma g suka kok sama Dika. Sampai akhirnya rumput bergoyang, ombak bergulung, langit mendung, dan tsunami terjadi, Rahma harus satu kelompok belajar sama Dika. Percayalah, bukan senang yang ada di hati Rahma, melainkan benci. Benci karena Dika adalah Dika, seorang pemuda populer yang banyak gaya. 

Dika? g ada niat buat deketin Rahma kok. Masalahnya, Dika aja g tau, Rahma yang mana. Dika cuma afal sama cewe yang ngasih perhatian lebih sama dia. 

Dika
"Eh ada pensil?" kata Dika pada Desi. "Ngga lah, pensil aku cuma satu." jawab Desi berbisik. 
Dika berbalik, bingung harus bilang pada siapa, mengapa, dan bagaimana hati ini harus memilih. Ini perkara besar, pensil itu penting, bung. Selain buat kelihatan keren dan rajin, ini menambah image smart buat Dika. Oh iya, pensil juga bisa kepake buat nyatet pelajaran kok. 

"Eh ada pensil?" ulangnya pada gadis berambut panjang yang duduk di sudut 53 derajat LS dan 47 derajat LU dari tempat duduknya. 

Tanpa bicara, si gadis misterius mengaduk tempat pensilnya, menutup tempat pensilnya lagi. Mengaduk tasnya sampai kedalaman samudera. Mengaduk kantong celana. AHA! dengan wajah penuh kemenangan, dia mengangkat pensil kayu yang setengah tumpul dan agak usang ke arah Dika. Dika yang tercengang menatap fenomena di depannya, cuma bisa nganga dan menatap nanar gadis itu. 

"Thanks." 

Si gadis hanya mengangguk dan menatap serius lagi ke arah pukul jam 3, tempat dosen berada. 

Rahma 
Belajar. Belajar. Nunduk. Belajar. Serius, fokus. Ga ada yang bisa ngalahin fokus Rahma sama pelajaran, serius deh. Kucing tetangga aja bisa kalah.

Sampai keheningan Rahma terusik dengan suara berat, "Eh ada pensil?"

Rahma tertegun sesaat. Iya, ada sih, pikir Rahma. Tapi dimana ya. Dengan seluruh kekuatan pikiran dan raga, Rahma berusaha mencari pensilnya yang terbaik. Di kotak pensil, ngga ada, di tas juga ngga ada. Duh, ada yang di kantong, pikir Rahma lagi, tapi buruk rupa dan ga sebanding sama yang nanya. Tapi, tapi, yaudahlah, yang penting ada.

Kasi pensil. Selesai sudah percakapannya dengan suara berat itu.

"Thanks."

Hah? Dia bisa ngomong thanks? Dia, si Dika, pemuda dengan reputasi sangat buruk di mata Rahma?

Saking tertegun, Rahma hanya bisa diam, dan berusaha kembali fokus, walau setengah pikirannya berperang melawan prinsip pikirannya mengenai Dika selama ini.

Dika
Senyum nanar. Menatap pensil yang g sekeren pandangan keren ala Dika. Dia menatap lagi gadis tadi. Berpikir sejenak. Oke, Dika g tau itu siapa tadi.

Dika memperhatikan lagi. Rambutnya bagus, cuma g keurus aja.

Ada ya cewe yang begini ga meratiin rambut, rambut kan mahkota, pikir Dika sambil mengerucutkan bibirnya.

Dika melirik Desi, kulit putih mulus, rambut hitam sepundak bersinar. Jauh bener cewe itu sama cewe gue. Cewe gue lah paling bener, pikir Dika sambil senyum jahil. Dika berusaha meraih tangan Desi dan gagal karena dosen lewat.

Gagal, kecewa g berhasil pegang tangan Desi yang hanya 20 cm dari tangannya, Dika memainkan pensil ditangannya ala pemain drum profesional, walaupun kelihatannya sih tetep ngga ada profesionalnya. Detik itulah dia memperhatikan, ada nama terukir di sana, "R a h m a".

Oh. Rahma.

"Yuk keluar." lirih Desi mengaburkan lamunan Dika. Ternyata. Demi apapun, kelas sudah selesai, dan Dika ga merasa sedikit pun ada kelas tadi. Yah, yasudah. Dika menutup binder file yang dia beli buat catatan kuliah, atau bisalah, jadi ajang coretan.

****
Entah ada angin apa, Dika menatap pensil itu, ragu sesaat, dan berakhir dengan memasukkan juga pensilnya ke dalam tas. Meninggalkan si gadis pemilik sahnya, tercengang dan terpaksa menelan kemungkinan, pensilnya tidak akan kembali. Gadis itu hanya bisa menunduk dan menyesal sekaligus bersyukur sambil berguman kecil, "Untung bukan pensil bagus. HAHA".

SUMPAH. Masalah pensil ini super lebay. Tapi bagi mahasiswa, pensil itu memang crusial.

-tobe continue, From Ear to Brain part II

Sunday, 3 March 2013

From Heart to Heart

See me in the eyes.
You will know how much I love you.
You will see my tears, when I walk away from you.


Galau. Segalau-galaunya kucing tetangga. Desi paling galau. Gimana ya rasanya, bersama seseorang tapi dia ga ngerti kalau kita bersama dia? 

Oke, oke. Desi bukan pacarnya. Desi bahkan bukan apa-apanya. Desi cuma kebetulan suka sama dia dan dia kebetulan suka sama Desi, tapi ga bisa banget walau negeri api menyerang dan Belanda balik lagi, bersama karena iman yang berbeda, kaya kata Marcell-Peri Cinta. Ini masalah besar. Serius. 

Desi jadi luluh lantah tak bisa berbuat apa-apa setiap kali sang arjuna hadir dan membutakan langkah sehingga tidak tahu arah jalan pulang. Cinta Desi sama Sang Arjuna kelewat besar sampai mencapai langit ke-7. Sedih sekali, pilu dan ngilu bersatu. 

Apa ya, yang harus dilakukan Desi? Forget it, and walk away? Ya, itu yang akan dalam rencana, dan sungguh akan berusaha dilakukan Desi. 

Sakit memang, tapi ini untuk kebaikan kedua pihak, hubungan yang tidak ada masa depannya ini, harus dihentikan sebelum semuanya terlambat -just saying- tapi bagaimana dengan pasangan beda keyakinan? Banyak artis, sebut saja Lidya Kandau dan Suami, Christian Sugiono dan Titi Kamal, bisa bersatu dan langgeng sampai sekarang ini. 

Orang tua Desi sangat menentang, dan Desi tidak memberontak, memang salah yang dilakukannya sekarang. Tunggu, memang Desi berbuat apa? Tidak ada.

Maksudnya tidak ada? 
Sejak Sang Arjuna menyatakan perasaannya hingga detik ini, Desi masih diperlakukan sama seperti sebelumnya. Arjuna sangat sibuk dan tidak jarang mereka tidak berkomunikasi seminggu, dua minggu. Arjuna juga tidak pernah memberikan harapan lebih, hanya mengatakan, "Jika kamu memang buat aku, semuanya akan dipermudah kok." Hanya satu, Desi jatuh hati pada pemuda yang tepat, keyakinan yang beda.

Entah sedih atau senang, Desi memang memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Arjunanya, walaupun Ia tau Arjuna-nya akan selalu menjadi Arjuna hatinya, untuk waktu yang sangat lama. Penyesalan mungkin akan terjadi, tapi keputusan Desi kuat. IA TIDAK AKAN MENGHUBUNGI LAGI ARJUNA, langit dan bintang menjadi saksinya. Yah, setidaknya hari ini. Besok, lihatlah besok, Desi merasa seperti Butiran Debu tanpa Arjuna.

Desi bukan tidak ada peminat, peminatnya sangat banyak, menumpuk dan bahkan seminggu satu, pasti ada. Tapi apa boleh dikata, rumput yang bergoyang pun tau, hati Desi hanya milik Arjuna. 

Hanya bisa berdoa saja, di sini, untuk Desi dan Arjuna. Semoga ada jalan yang tidak terlalu menyakitkan untuk berpisah dan semoga tetap teman. Ga kaya pasangan lain, yang berakhir menjadi stranger

Endless story, pray for DA.

Read next : From Ear to Brain part I