Showing posts with label sad. Show all posts
Showing posts with label sad. Show all posts

Friday, 17 January 2014

Back to My History

Please say sorry when you knew it. 

YES. 
Maap, maap. Udah lama ga nulis, maap. 

Halo. Hello. Hola.
Jadi, singkatnya, saya sibuk, bukan mau sok sibuk sih. Tapi emang sibuk. 

Nafas aja susah, gampang sih, tinggal tarik buang tarik buang, alasannya simpel kebanyakan panggilan, folks. Kalau tidak ada syuting sama ayam tetangga, dengerin musik khas dari tangisan anak tetangga, ada job spesial buat tidur cantik di siang hari, atau kemungkinan besar sih.. nonton. IYA NONTON, BANYAK BANGET LOH FILM BARU YANG KECE. SERIUSAN, INI SAMA SEKALI BUKAN BERCANDAAN. Sengaja di caps lock biar lebih greget

Dari film horror Paranormal Activity : The Marked Ones, kesukaan KP yang di  Bogor, walau pas nonton ada refleks dewa, katanya, sampai film aksi, drama, komedi, sampai film lama semacam Titanic, The Pink Panther, dan Death Note masih saja bisa membuat saya tidak berkedip. 

Oh ya, ngomong-ngomong tentang tidak berkedip, saya lagi kena kelainan aneh nih, folks. Saya tidak bisa membuka mulut dengan maksimal, alias tidak bisa MANGAP. Sumpah, ini mengganggu, apalagi kalau mau senyum manis mempesona, jadi susah kan, padahal senyum ini modal luar biasa untuk kemajuan negara api. Entah kenapa, sejak sebulan yang lalu (bulan Desember 2013), EH SELAMAT TAHUN BARU YA!, itu saya tidak bisa buka mulut sempurna, awalnya hanya di pagi hari, tapi semakin lama sampai sore saya masih tetap mengalami kaku di rahang kiri. Kalau ada yang tahu ini kenapa, tolong kasih tau saya ya, kasian kan ayam tetangga, jadi ga bisa syuting. Ini ga nyambung sih sama tidak berkedip, sorry ya. 

Sebelum lupa nih, saya lagi LIBUR. HAHAHAHA. LIBUR MEN. Udah masuk kuliah lagi ya? Kasian. Saya masuk lagi sekitar 2 hari lagi. Liburan semester yang berjumlah 7 hari ini saya habiskan di rumah tercinta bersama dua orang kocak, baik, bijak, rajin menabung, tidak sombong, dan paling saya sayang, papa mama. Mah, jangan lupa tambahan selipannya ya, aku udah bilang baik tuh

Selama liburan ini, saya sibuk parah, dari guling-guling di tempat tidur orang tua sampai duduk seharian di kursi malas punya mama, enak banget folks, pantesan aja mama betah. Saya juga membantu dalam hal masak dan dimasak, lebih tepatnya, saya menjadi tim khusus memotong, mencincang, mengambil BAWANG, segala jenis bawang. Jadi, kalau butuh bantuan dengan bawang, hubungi saya ya. 

Kabar baik yang agak buruk lainnya adalah saya semakin cantik, sorry-sorry, bukan. Saya akan kembali ke Palembang 2 hari lagi dan berarti saya akan kembali ke rutinitas yang luar biasa padat, tapi kaya kata restoran fastfood terkenal itu, I'm Lovin it, tereteteteeeeeet #backsound. Saya akan kembali menuntut ilmu, belajar, dan tidur dengan rajin. Oh iya, pacaran juga deh, dengan tekun. Seperti kata pepatah, belajar nyenyak, tidur konsentrasi, thanks teman kelas yang jenius atas pepatah yang mencerahkan hidup

NAMUN SEKALI LAGI, saya bercanda kok. Saya serius belajar, folks. Saya ga kebayang kalau nanti saya harus berhadapan dengan pasien dan masih gagap, atau malah berubah sesi jadi curahan hati atau sesi termehek-mehek. Saya jelas akan mempermalukan Indonesia dan seluruh teman sejawat saya di dunia. Belajar seumur hidup, itulah yang harus kami lakukan, doctor and future doctor

Selamat datang 2014, selamat datang BPJS, sebuah sistem yang luar biasa baik namun kurang dalam pelaksanaannya, semoga bisa lebih baik lagi ya, pak menteri. Selamat datang matahari, selamat datang kehidupan. SELAMAT DATANG SEMANGAT BARU! Walaupun banyak kejadian luar biasa di awal tahun ini, contoh banjir dimana-mana, bencana alam, korupsi yang ketahuan, saya yang punya pacar, saya yang syuting sama ayam tetangga season 187, saya yang ga jadi potong rambut, dan masih banyak lagi kejadian luar biasa lainnya; mari bersyukur, mari mulai lagi baru lagi, mari raih kesempatan baru.

Semangat hap, hap.
Maaf kalau tulisan kali ini ada yang menyinggung, memang bermaksud begitu kok, eh, tidak bermaksud menyakiti, hanya kritik membangun. 

Love Out Loud :D
@AngelaKarenS


Monday, 17 June 2013

Stop and Think

Why you should go when you have a time to think? 

Haloo.

Oke pertama-tama, maaf. Maaf banget untuk keterlambatan saya untuk menulis lagi. Emang agak susah ngatur pembagian waktu akhir-akhir ini. Tapi MASIH BISAA! HAHAHA *ketawamiris*

Hari ini saya mau berbagi pikiran aja nih, folks. Diusahain ga curhat deh, hihi. Anggep aja, ini edisi motivasi ato anggep aja saya baru kejeduk pintu. Makasih.

Apa sih yang sebenernya kita lakuin kalau lagi sedih? jatoh? jatoh cinta terus patah hati? terus mau gantung diri di pohon toge? ngga, ini bukan curhat.

Banyak orang yang akan menyarankan kita, "Ayo jangan sedih, maju terus ya" atau "Jangan diinget lagi, masa depan masih panjang, maju aja" atau lagi "Mati ajalah bro" yang ini entah kenapalah, tapi pernah ada, serius.

Kalau dari pengalaman, bukan curhat, saya sering bingung waktu disuruh maju. Mau maju gimana, hati lagi serasa remek hancur gini. Masalah bergelimpangan dimana-mana, air mata berbanding lurus dengan banyaknya masalah. Semakin banyak masalah, air mata juga semakin deras.

Ya terus, gimana?

Ada seseorang, yang pernah menyuruh saya berhenti dan berpikir sejenak. Saat emosi dan malah disuruh mengingat kenapa-bagaimana-kronologis terjadinya emosi itu. Saya langsung menolak mentah-mentah tawaran itu. Siapa juga yang mau inget-inget hal yang buat sakit hati, buat sedih, terus laper dan makan terus? (?)

Tapi saya yang sudah putus asa, bingung mau berbuat apa, akhirnya mencoba.

Berhenti dan berpikir.

Mudah memang sebenarnya untuk berhenti sejenak. Tapi untuk berpikir? Ini tantangan yang cukup sulit. However, manusia itu ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan fitur berpikir, jadi otomatis, manusia pasti bisa. Kita manusia, kan?

Maksud berpikir di sini adalah untuk mengolah semua emosi-emosi itu menjadi hal yang positif, dengan cara evaluasi pada diri sendiri, bercermin. Iya, bercermin. Lihat semua kesalahan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Lihat betapa kita ini manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan, imperfect.

Coba dipikirkan dan direfleksikan, ketika kita marah, kesal, dan benci pada orang lain karena kesalahannya, pernahkah kita berpikir 'bagaimana saya ketika ada di posisi itu?', 'apakah saya bisa lebih baik?', 'apakah saya yang terbaik?', 'apakah saya bisa seperti dia?'. 'apa yang menyebabkan dia begitu?', 'apa dia sedang kesulitan?'. Begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dalam emosi. Ketika kita meninggalkan emosi tanpa memikirkannya, pertanyaan ini akan tinggal sebagai luka menganga, yang akan kembali sakit saat disentuh.

INGAT! kedamaian dalam diri hanya bisa didapat ketika kita menerima semua kejadian buruk dan berada di titik terendah. Semua emosi ini sungguh dapat menjadi kekuatan terbesar kita untuk hidup. Motivasi, sekaligus penguatan.

Ingat lagu, what doesn't kills you, makes you stronger? Ini benar, folks.

Percaya aja, masalah yang ada sekarang adalah bagian dari hidup kita. Bagian yang terbaik, yang membuat kita HIDUP. Bukan sekedar hidup, tapi sungguh HIDUP. Naik turunnya kehidupan, banyaknya masalah, hidup yang sulit, semua adalah bagian dari hidup. Tanpa ini semua, tidak ada yang namanya "berbaikan", "senyum kemenangan", "salam memaafkan", "senyum kasih". Banyak hal positif yang bisa di dapat dari masalah, folks.

Soo. Jangan takut untuk berhenti dan berpikir. Mungkin, ada yang berpikir, saya asal tulis saja. Tapi sejujurnya, saya tidak asal tulis, siapa sih, yang belum pernah merasakan masalah? :) Saya juga pernah kok. Kesakitan dan kebingungan. Tangis dan geram. Pernah kok. Tapi saya bisa mengatasinya, just stop and think. 

Ini penting banget menurut saya. Berguna karena ga banyak orang yang bisa melakukan pengolahan emosi, tapi Anda pasti bisa, kan? :)

Good night, Nice sleep, Stay positive. 
@AngelaKarenS

Wednesday, 29 May 2013

A Will to Try

Thousand steps are started by a simple first step -Rafiki (Disney)

HALOOO. Maaf. Mianhae. Sorry. Wo bu qi
Udah lama banget saya ga nulis. 

Maaf, jadwal padet merayap, udah kaya jalan-jalan pada Ibukota pas jam pulang kantor. Nafas aja susah, serius deh. 

Banyaak banget kejadian yang luar biasa akhir-akhir ini.

Dari seneng, sedih, patah hati, sampe pengalaman baru yang ga mungkin bisa dilupain juga ada. Saya ga gitu sedih kok, soal patah hati. Yah, dikit lah. Buktinya saya cuma nangis 4x sehari. Yah ga masalah lah ya. Tulisan saya mengandung unsur lebai yang fantastis, jangan semua ditelen ya, folks

Mau mulai dari mana ya. Hmm. 

SENENG! 
Yap. Paling enak nulis soal seneng. Gampang, simpel. Bikin senyum-senyum imut, ah, saya emang imut.

Senang itu ketika lagi ga ada uang sama sekali, bingung mikirin mau makan apaan, ini pengalaman pribadi, terus tiba-tiba, TIBA-TIBA... JENGJENGJENG, ada uang nyelip di kantong baju. HAHAHAHA. Sumpah itu seneng banget, bahagianya berasa sampe langit ke-7 

Senang itu juga... pas lagi kepepet ngerjain tugas, listrik mati, hujan deras, kamar bocor bikin banjir lokal, kertas tugas kerendem air... *nangishebohdipojokkan dan akhirnya memutuskan buat tidur. Oke, paragraf ini sebenernya sedih. 

Tapi ada hal positif loh, dari semua kelucuan kacau hari itu. TIDUR. Tidur cukup itu langka, folks

Tidur cukup itu ngebuat pas bangun seger, senang, riang, matahari cerah, dan HP yang sepi SMS, ini emang takdir jomblo kongenital, siapa juga yang mau SMS pagi-pagi

Tapi, however, saya cukup bahagia bisa bangun pagi hari itu, bahkan malah lebih bersemangat dibanding biasanya. Tugas juga bisa selesai dengan lebih baik dan maksimal. Muka jadi tambah cantik, putih merona, saya ga iklan kok, sumpah

Dari semua hal yang kita anggep sial, sebenarnya sih, banyak hal positif juga yang bisa diambil dari sial-sial yang numpuk itu. Cuma perlu mengubah sudut pandang aja kok. Stay Calm, folks. Inget aja, bahagia itu simpel. Sumpah, saya terharu bacanya, ya ampun, bijak sekali, super sekali bung.

Yah, walaupun semua bisa diambil positifnya, saya juga ga bisa muluk-muluk amat untuk bisa ngeliat semua masalah dari sudut positif. Sedih juga sering melanda. Apalagi kalau udah di kost-an, ngarep ibu kost masak, dan ternyata Ibu kos kecapean, akhirnya tidur tanpa masak. Mau dilihat positif dari mana yang itu ya #garuktembok. 

Sedih itu biasanya campur aduk sama patah hati dan galau, saya ga galau kok, ngga. Yah, saya kurang makan. Itu paling bikin galau. Tugas menumpuk, ujian tinggal beberapa hari. INI GALAU PARAH. LEBIH PARAH DIBANDING GALAU GARA-GARA PATAH HATI. AAAAAAAA #barusadarbentarlagiujian.

Yah yaudahlah yah. Udah terlanjur. Abis ini belajar deh. Eh, nonton Korea dulu deh. Abis itu belajar.

UHUK. Oke, pindah topik. Sorry meracau, maklum otak udah ga singkron kalau jam segini. Apalagi laper. 

PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN! Jadi... Jadi... saya.. setelah hampir 19 tahun sangat membenci, mengutuk, dan tidak pernah BERNYANYI, akhirnya saya bernyanyi. Di depan banyak orang. Lomba sing cover. Lombanya di adain di Gedung Aula RRI, Palembang dalam rangka SHINee World Day, Korea-Korea gitu. Keren acaranya, salut banget sama panitianya, apalagi sama si kakak panitia ganteng.

Sebenernya, lomba ini agak misi bunuh diri buat saya. Tapi gimana juga, saya mau coba. Lagian, saya nyanyi ga sendirian, saya bareng si ganteng R dan si cantik C. Oh iya, lupa. Lagunya lagu Korea. Ada yang pernah dengar lagu, Goose's Dream by Insooni? Keren loooh. Ga kece kalau belum pernah denger, serius. 

Beberapa menit sebelum naik ke panggung, saya baru kena serangan panik. Gimana kalau saya malah bikin grup saya kalah? Gimana kalau jadinya jelek? Gimana kalau saya meracau di depan dan malah koprol di depan juri? Jurinya ganteng banget, sumpah, Gimana kalau saya pingsan terus kejang-kejang? Gimanaaaaa. 

Gemeter tapi tetap maju ke panggung. Kami bertiga bernyanyi, setelah kerusakan mic yang lucu. Untung bukan di tengah-tengah kami lagi nyanyi. Ternyata, banyak juga penonton yang ikut bernyanyi bersama kami. Banyak juga yang tepuk tangan setelah kami bernyanyi. Agak seneng sih, bangga. 

DAN..kami.. kalah. 

Entah kenapa, kalah kali ini, sama sekali ga bikin saya sedih. Malah bikin saya lebih pengen ikut lagi tahun depan, dengan persyaratan persiapan yang lebih matang. Pengen banget bisa sekali-kali, bawa piala pulang dengan embel-embel "Singing..". Ayo R, C, tahun depan, lagi yuu.

Oke. Itu aja buat hari ini. Garing ya? Maap deh, aslinya saya baik, rendah hati, pemalu, dan lucu kok. Jangan lupa follow twitter saya yap, @AngelaKarenS jadi kita bisa ngobrol-ngobrol cantik. 

Makasih. 
LOVEEEE YUUUU! Keep calm and try.

Tuesday, 30 April 2013

A Caution

Halo, folks.

Yap, setelah sekian lamaaaaa saya menghilang, saya kembali *JENGJENGJENG*

Pengen share pengalaman yang agak unik nih. Ga galau lagi kok, seriusan. 

Di suatu hari yang cerah nan indah, hari yang tenang dan cukup membahagiakan, ada seseorang yang cukup tampan dan sumpah, tampangnya bersih-meyakinkan-terawat gitu yang menempati kamar kos di tempat kos saya (FYI, tempat kos saya nyampur cewe cowo dengan harmonis dan peraturan yang ketat) serta berencana tinggal satu bulan.

Senang ada teman kos baru, saya dan teman saya langsung menyapa dengan ramah. Mengobrol riang, curhat, dan bahkan sampai cerita tentang keluarganya. Ternyata, laki-laki ini sudah berkeluarga dan di sini untuk bekerja. Selesai ngobrol riang yang cukup memberi kesan baik, kami kembali ke kamar masing-masing. 

Malam-malam, si dia, mengetuk pintu dan meminta tolong mengenai koneksi internet yang baik di Palembang ini, dll. Dia mengakui kalau dia mau video chat dengan keluarga kecilnya. Tersentuh, saya langsung memberi bantuan dengan meminjamkan modem-saya-yang-baru-diisi-pulsanya, untuk dia. Gimana juga, saya mengerti rasanya sulit menghubungi keluarga, nasib anak rantau rindu rumah

Dengan senang hati dan mohon maaf merepotkan, dia permisi dan menggunakan modem itu. Bahkan malam itu, saya bisa mendengar dia tertawa-tawa dan mengobrol. Sungguh saat itu, semua terasa benar *menatapkearahkejauhankerenkayadifilm.

SAMPAI 2 HARI LEWAT.... segalanya berubah. 

Saya sudah mulai gelisah dan butuh pakai modem. Teman saya akhirnya bertanya pada Ibu Kos kami, adakah si Dia? 

Dan ternyata........

DIA SUDAH TIDAK ADA, KAMARNYA KOSONG, dan DIA BELUM BAYAR BULANAN KOS. Jadi intinya, KAMI SEMUA DITIPU MUTLAK. 

Marah, kecewa, merasa bodoh. Itu perasaan saya. 

Walau sebenarnya saya beruntung karena hanya modem, sedangkan teman saya kehilangan lebih banyak. 

Sungguh, saya tidak mengira bahkan sampai sekarang saya masih berharap dia akan tiba-tiba kembali kaya di sinetron-sinetron, siapa tau dia lupa ingatan terus ternyata dia adalah anak yang tertukar dengan anak bos mafia jadi ga bisa pulang. 

Tapi, semua hanya harapan kosong. 

Folks, seriously, banyak banget modus penipuan yang bermunculan sekarang. Hati-hati. Mereka sungguh profesional di bidang penipuan ini. Saya berharap pengalaman saya ini bisa membantu untuk mengenali modus-modus penipuan sial ini. 

Bagaimanapun, saya sudah merelakan modem atau pun segala penipuan ini. Saya tidak mau menambah dosa saya dengan menanamkan benci atau marah di hati saya. Mending saya doain aja, semoga dia cepet sadar, kalau jalan yang dipilih salah dan sangat salah. 

Seakan-akan sungguh di dunia yang super luas ini, ga ada jalan lain. Masih ada kok jalan, sungguh, lebih baik bekerja keras banting tulang banting buku banting meja, dibanding melakukan hal yang tidak jujur. Serius, pertanggungjawaban nanti akan ada di pengadilan terakhir, folks.

Saya percaya, kebaikan walau menderita, masih jauh lebih baik. 

Thank you! Goodnight.

Tuesday, 2 April 2013

The Face of Climate Change, Earth Day 2013

Yah, cape sih, ga enak sih, tapi siapa lagi kalau bukan kita? -anonymous

Oke, terinspirasi dari seorang kakak tingkat yang tiba-tiba (baca:maksa) membantu dia untuk membuat konsep acara Earth Day 2013, saya malah jadi sangat tertarik dengan hari bumi ini. Udah pada tau tentang Hari Bumi? 

Jangan takut kalau ga tau, folks

Awalnya saya juga tidak tau, tau sih dikit. Saya tahu kalau.. Hari Bumi adalah... adalah....... Hari untuk Bumi.  Keren kan? Singkat dan padat. 

Hari Bumi lahir pada 22 April 1970, ketika lebih dari 20 juta warga Amerika turun ke jalan, taman, auditorium, dan kelas-kelas lintas negara untuk mendemonstrasikan pandangan mereka demi lingkungan yang sehat dan cara hidup yang baik. Kejadian ini mendorong pembentukan "U.S Environemental Protection Agency and The Passage of the Clean Air, Clean Water, and Endangered Special Acts". 

Sekarang, seperti yang kita ketahui, Bumi semakin panas. Kita semua berada diujung kemusnahan dunia akibat pemanasan global dan permasalahan lainnya. Tapi masih ada kesempatan bagi kita semua untuk melakukan tindakan. 

Mungkin kita selama ini hanya mendengar di radio, membaca koran, ataupun menonton TV, mengenai cara-cara menyelamatkan Bumi dan betapa hebohnya "Penyelamatan Bumi" itu sama kaya penyelamatan cinta yang diujung tanduk akibat salah satunya sudah berhenti berusaha untuk mencintai. Sorry, bukan curhat kok, kenyataan *nangisdipojokkamar.

Sebenarnya, kunci dari misi penyelamatan bumi ini ada pada kita semua. 

Ketika kita berhenti menggunakan listrik secara berlebihan, memakai kendaraan secara efektif dan efisien, menggunakan air, serta menjaga kebersihan lingkungan kita sendiri, menggunakan barang untuk beberapa kali, mendaur ulang, menggunakan sumber daya alam secukupnya, bumi tentu akan tersenyum kembali.  

Teorinya sih, gampang. Tinggal matiin keran, matiin lampu, blablablablablabla yang sering dibilang di TV-Radio-Koran ituloh. Praktiknya yang agak....sesuatu. Belum lagi, misal, misal, MISALNYA DOANG, saya sudah memungut sampah, membuang di tempatnya, bahkan menyapu jalan, tapi teman saya tidak, teman saya malah membuang sampah di jalan, teman saya juga tidak membalas cinta saya, eh sorry. Entah sih, tapi menurut saya, sia-sia aja, iya ga sih?

Makanya, sekarang saya-yang-lagi-agak-lurus ini, mau mengajak semua teman, kakek, kakak, abang, adek, sepupu, tetangga, kucing tetangga, dan seluruh alam jagad, dari dulu saya bingung, jagad atp jagat sih? bikin galau aja, buat mulai peduli sama Bumi kita ini. 

Kan, mau ga mau, kalau Bumi ini tersenyum, pasti senyumnya akan membuat kita tertawa. Jangan sampai, semua usaha teman-teman pencinta dan penjaga Bumi ini jadi sia-sia gara-gara kita males buat buang sampah ditempatnya. 

Kita bisa beraksi per kelompok juga. Baik dari organisasi ataupun lewat kelompok-kelompok pribadi. Jelas, hal ini akan berefek lebih baik bagi Bumi, Lebih banyak, lebih baik kan? sama kaya iklan, yang lebih mahal banyak, ga ada hubungannya kok, ga usah dipikirin, saya tiba-tiba inget aja. Sekarang udah banyak juga referensi buat penyelamatan bumi ini. 

Ada nih, satu website yang bikin saya ngiler dan nganga kaya anjing sepupu. Namanya Earth Day Network, bisa di cek di Earth Day Network.  Sumpah ini keren. ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) juga mendapat referensi  konsep Hari Bumi dari sini, loh. Didukung ya, folks.


Ini ada salah satu proyek yang dibuat sama EDN, The Canopy Project | Earth Day Network (Proyek untuk penanaman pohon di daerah-daerah). Bisa dilihat-lihat, atau juga bisa dibagi-bagi lagi ke keponakan, adik, sepupu, dan lain-lainnya. Keren loh, kalau sampai nama Indonesia masuk ke Highlights of The Canopy Project. Lebih gampang lagi, bagi para facebook-ers, twitter-ers (?), blogger, dibanding nge-galau ga jelas, mending galau-in Bumi kita, bisa di share, pakai "#faceofclimate". 

A movement can be started by one person. Kalimat jelas, singkat, padat di sebelah Barat ini, sudah cukup menjelaskan betapa Bumi membutuhkan bantuan kita. Tidak perlu banyak orang, hanya butuh satu orang peduli yang membantu Bumi, Bumi akan kembali bersinar. Ga ada salahnya kan, kita membalas kebaikan Bumi? ;;) ya ampun, saya bijak banget hari ini, sampai terharu sendiri, ya ampun.

Ditunggu loh, aksinya tanggal 22 April 2013 dan setiap harinya, folks
Selamatkan Bumi! #faceofclimate

Sunday, 31 March 2013

Pesanku pada Langit


Langit.

Aku mencintaimu, langit
Walau tak mungkin lagi
Aku merindukanmu, langit
Walau langit pun tahu, tidak mungkin lagi

Begitu mudah hatiku bahagia
Ketika kamu ada, ketika kamu tersenyum
Begitu mudah hatiku hancur
Ketika kamu pergi, langit

Aku mencintaimu langit, dan itu salahku
Tidak, bukan kamu, tapi aku
Akulah yang tidak bisa melupakan
Hatimu, senyummu tinggal di pikiran

Hitam pahit, sunyi hampa
Pergi, kataku
Tapi aku menangis
Dan akhirnya memohon langit untuk kembali

Kini kemana aku harus pergi?
Haruskah aku menghapusmu?
Apakah kamu mau aku pergi?
Apa yang kamu inginkan, langit?

Dan kini kamu terdiam, langit
Mendung dan sedih
Mungkin memang, lebih baik aku pergi
Meski hancur, meski gelap

Galau maksimal, folks. Sumpah. *Nangisdipojokkan.

Thursday, 7 March 2013

From Ear to Brain part II

"Mana yang lebih baik, apa yang terlihat atau yang tidak terlihat dari seseorang?"- noname.

Dika
Konser Musik. Sore ini. HEYEAAH. Ajang yang sudah ditunggu semua orang populer, atau yah, yang merasa diri populer. Dika juga. Sejujurnya dia sudah mengajak Desi, kekasih hatinya untuk periode Februari 2013 sampai waktu yang tidak ditentukan, untuk pergi bersama. Tapi apa boleh dikata, kata Desi identik dengan penghematan. 

Galau menyerang kedalaman hatinya, jantung, dan jiwa raga menjadi lemas, ombak bergulung, hujan membasahi rerumputan yang bergoyang, kucing-kucing berteduh, bumi berhenti berotasi... oke ini lebay, bumi berhenti berotasi? GILA.

Dika pun beralih pada teman semasa kecilnya, Arjuna Putra.

"Jun...."

Selintas pandang, Arjuna tidak semenarik Dika, atau selama ini Dika berpikir begitu. Arjuna tidak setampan Romeo yang mendapatkan Juliet nantinya. Tapi banyak wanita yang menempel padanya. Kenapa? Mudah saja, Arjuna mengerti wanita, prinsip hidupnya se-simple lagu Ada Band, karena wanita ingin dimengerti, lewat tutur lembut dan laku agung...

"Iya?" jawab Arjuna dengan pandangan menyelidik pada kawan seperjuangannya itu. Ia sangat mengenal Dika, ga mungkin dia ga ada maunya. 

"Kita kan temen udah lama, gue udah nganggep lu sodara gue, jadi...... temenin gue ke konser yuk...." balas Dika dengan suara memelas dan manja yang dipaksakan. Hanya butuh 1/10000000000 detik untuk penyesalan seumur hidup Dika. Ini langkah yang super salah. 

"KONSER? Lu gila apa? Kita bakal ujian bentar lagi, dan lu mau nonton konser ga jelas itu? CUMA BUAT KEREN DOANG? Pantesan aja Desi ga mau nemenin lu. Ga mau gue, udah mahal, cuma bisa liat artis kaya semut...." tandas Arjuna dengan keji dan langsung melangkah menjauh duduk di kubu Desi. Kubu penolakan-pergi-ke-konser.

Oke, fine. Yah, segala langkah kan boleh dicoba, pikir Dika. Kegalauan kembali menggandrungi dirinya, kini ditambah kekecewaan pada Desi+Arjuna. Lama-lama mereka semakin mirip. 

Dia menengok ke kanan 45 derajat, ini beneran 45 derajat, ga ada lintangnya kok. Oke. Ada si cewe pensil. Siapa lagi deh namanya. 

Mengaduk tas, Dika menemukan pensil itu. Pensil buruk rupa dengan ukiran nama R a h m a. Secercah ide yang jarang muncul dipikiran Dika, muncul. 

Rahma
Rahma menunduk, dengan wajah dingin dan datar. Berusaha belajar dan fokus. Tapi keseriusannya terpecah. Ada suara berat yang selalu ngoceh mencari perhatian. 

Berisik banget sih jadi orang. Ke konser aja ribet, apa-apaan dia. Pergi aja sendiri. Pikir Rahma kesal.

"Rahma." panggil sebuah suara.

Tanpa menjawab dan enggan, Rahma mengangkat wajahnya dari catatan terperinci mengenai apa yang harus dilakukan hari ini dan juga catatan pelajaran hari ini, semua terstruktur dan sangat rapi. Serius, semua orang pasti terkejut melihatnya, dan bereaksi, "GILA, RAPI BANGEET! LU KOK BISA SIHH.. KERENN" terus dibawa kabur ke tukang fotokopi. Beginilah perihal nasib catatan dengan tulisan bagus, diingini khalayak ramai.

"Mau ga ke konser musik sore ini? Temenin gue?" bisik suara itu, memelas dan penuh rayuan. 

Sejujurnya, Rahma suka band ini. Sesungguhnya, Rahma sudah punya tiket ke konser ini, tapi dia berencana pergi sendirian. Hati nurani Rahma terusik. Harus apa, dia mengorbankan kebahagiaannya bersama laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya atau haruskah, diberi kesempatan?

"Boleh. Mau ketemu jam berapa?" jawab Rahma lirih, pasrah, dan berharap ini bukan langkah yang salah. 

Senyum kecil muncul di wajah itu dan jawaban panjang meluncur cepat dari bibir tipis yang membentuk kurva bibir sempurna, salah satu bagian wajah yang selalu membaut laki-laki menarik, "Abis kuliah, kita langsung siap-siap aja, rumah lu dimana? atau lu mau pergi beli baju dulu atau gimana? Lu mau beli tiketnya dulu? Gue anter deh."

Terkejut dan bingung mau jawab apa. Rahma cuma bisa bilang sambil menatap lurus catatannya, "Aku udah ada tiket. Udah rencana pergi soalnya. Aku ga tau mau kemana..." 

"HAH? Serius lu? jadi lu, kamu, lu, suka juga band ini? KOK GA CERITA SIH?" sambut lelaki itu antusias dengan kesenangan dan kepuasan di wajahnya. Membuatnya semakin tampan, semakin susah ditolak. 

dan Rahma mulai tergoda dengan kemanisan dunia, keantusiasan yang tampaknya jujur... 

Rahma terbawa suasana dan mulai bercerita, mereka bercerita dan larut dalam pembicaraan sampai tiba-tiba perkataan dosen mengejutkan  mereka, "Ya, sekian dulu kelas saya, ada pertanyaan?"

Rahma kontan menyesal. Ia tidak pernah melewatkan satu mata kuliah tanpa mendengarkan dan malah mengobrol begini. Tapi dia tidak bisa menyalahkan laki-laki menarik ini. Dia terlalu menarik. SANGAT MENARIK. Bahkan faktanya dia akan bersama dengan laki-laki ini sehari penuh.  

Mimpi apa aku semalam...

Dika
Kepuasan dan kelegaan mencapai hati Dika. Dika tidak pernah menyangka, Rahma akan se-menyenang-kan ini untuk diajak ngobrol. Ga nyangka juga, banyak kesukaan mereka yang sama, ga nyangka juga kalau sesungguhnya gadis ini cukup menarik. 

Tunggu. Cukup menarik? GA. Itu tadi pikiran yang sangat salah. Gue GA TERTARIK. Desi mana Desi. Gue suka sama Desi, Desi adalah gravitasi gue, ga ada yang lain. PDKT Desi itu susah, susah, susaaaaah, dibandingin sama nyari jarum ditumpukkan jerami, deketin Desi itu lebih susah, Dika harus mengalahkan ribuan laki-laki yang mengejarnya juga. Bahkan sampai sekarang, terkadang, kalau bisa malah, Desi dikasi kalung "DIKA'S" biar ga ada lagi yang deketin. Sumpah, ini ga hiperbola.

Tapi hari ini sungguh akan sangat menarik, Rahma... gadis yang ga bisa ditebak akan bersama-sama dengannya. 

Tunggu lagi. Harus ngomong apa dia ke Desi? dan juga orang-orang lain kalau dia akan pergi sama si kutu buku yang super serius ini? Bisa jatuh harga dirinya, reputasinya. 

Berpikir adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh Dika. Tapi demi konser, dan juga sedikit alasan untuk berada bersama Rahma.. Dia akan berusaha berpikir. Berpikir. Berpikir. Coba dunia ini kaya Dora The Explorer, semua begitu mudah, contoh, mau nyari gunung, tiba-tiba dibelakangnya udah muncul gunung yang tadi ketutupan awan doang. 

Oke ini rencananya, Dika akan bilang sama Desi kalau dia tidak jadi pergi ke konser dan bakalan ke rumah neneknya. Desi pasti langsung percaya. Desi ga mungkin muncul tiba-tiba di tempat konser. Jadilah. Gini aja.

Menghampiri Desi yang sedang dikerumuni banyak orang, mayoritas laki-laki, yagn modusnya mau tanya tugas, Dika sengaja melangkah dengan suara sepatu keras, udah mirip sama langkah paskibraka atau malah TNI. 

"Sayang, aku ga jadi ke konser" kata Dika pada Desi dengan suara pelan hingga cuma Desi dan angin yang menghembus lembut dapat mendengar ini. Desi langsung terkejut, air wajahnya berubah dari senyum ke arah sedih. "Seriusan? Pasti gara-gara ga ada yang temenin ya? Maaf ya, maaf" kata Desi dengan penuh ketulusan dan rasa bersalah. 

Ya ampun, Desi. Paling bisa bikin jantung gue berhenti. Cantik banget dia kalau lagi minta maaf gini. Aduh.

"Bukan sayang, cuma aku harus ke rumah nenek. Biasa, kunjungan rutin." Jawab Dika. 

Dengan senyum pahit dan pasrah, Desi mengangguk dan menggandeng tangan Dika keluar. 

Mereka tidak ada yang melihat, tidak ada yang menyadari, ada hati lain yang terluka melihat ini semua. Hati gadis yang tadinya berbunga dan menyadari posisinya.

Gadis ini berbalik dan melangkah pulang. Menyesal dan malu akan kesenangan sesaatnya. 

Ceritanya masih nyambung, folks. Ga mau ketinggalan? Subscribe please :D 

Tuesday, 5 March 2013

From Ear to Brain part I

"Lu salah. Dia g suka sama lu gitu aja. Perempuan jatuh hati pada percakapan pertama, Sob." -Arjuna sambil senyum membayangkan Desi.

Dika namanya. Pacar ganti-ganti, ga ada yang serius. Senyumnya manis kaya ubi gorengan yang biasa dijual di depan kampus. Playboy? engga kok. Dika g pernah pacaran sama lebih dari satu perempuan, yah, pendekatannya mungkin, agak bersinyal wi-fi

Rahma. Cewe, biasa aja. Sekian. Oh iya, dia pelihara kucing.

Singkat kata, Dika populer, Rahma engga. Dika berlari, Rahma duduk g peduli. Dika senyum, Rahma nengok ke belakang. Rahma nangis, Dika g tau. Dika nangis, seisi kampus tau. Rahma berduka, Dika tertawa. Now playing : Harus Terpisah-Cakra Khan

Hubungan mereka berdua dengan Desi dan Arjuna? (baca : From Heart to Heart) nanti juga tau. \

Engga, Rahma g suka kok sama Dika. Sampai akhirnya rumput bergoyang, ombak bergulung, langit mendung, dan tsunami terjadi, Rahma harus satu kelompok belajar sama Dika. Percayalah, bukan senang yang ada di hati Rahma, melainkan benci. Benci karena Dika adalah Dika, seorang pemuda populer yang banyak gaya. 

Dika? g ada niat buat deketin Rahma kok. Masalahnya, Dika aja g tau, Rahma yang mana. Dika cuma afal sama cewe yang ngasih perhatian lebih sama dia. 

Dika
"Eh ada pensil?" kata Dika pada Desi. "Ngga lah, pensil aku cuma satu." jawab Desi berbisik. 
Dika berbalik, bingung harus bilang pada siapa, mengapa, dan bagaimana hati ini harus memilih. Ini perkara besar, pensil itu penting, bung. Selain buat kelihatan keren dan rajin, ini menambah image smart buat Dika. Oh iya, pensil juga bisa kepake buat nyatet pelajaran kok. 

"Eh ada pensil?" ulangnya pada gadis berambut panjang yang duduk di sudut 53 derajat LS dan 47 derajat LU dari tempat duduknya. 

Tanpa bicara, si gadis misterius mengaduk tempat pensilnya, menutup tempat pensilnya lagi. Mengaduk tasnya sampai kedalaman samudera. Mengaduk kantong celana. AHA! dengan wajah penuh kemenangan, dia mengangkat pensil kayu yang setengah tumpul dan agak usang ke arah Dika. Dika yang tercengang menatap fenomena di depannya, cuma bisa nganga dan menatap nanar gadis itu. 

"Thanks." 

Si gadis hanya mengangguk dan menatap serius lagi ke arah pukul jam 3, tempat dosen berada. 

Rahma 
Belajar. Belajar. Nunduk. Belajar. Serius, fokus. Ga ada yang bisa ngalahin fokus Rahma sama pelajaran, serius deh. Kucing tetangga aja bisa kalah.

Sampai keheningan Rahma terusik dengan suara berat, "Eh ada pensil?"

Rahma tertegun sesaat. Iya, ada sih, pikir Rahma. Tapi dimana ya. Dengan seluruh kekuatan pikiran dan raga, Rahma berusaha mencari pensilnya yang terbaik. Di kotak pensil, ngga ada, di tas juga ngga ada. Duh, ada yang di kantong, pikir Rahma lagi, tapi buruk rupa dan ga sebanding sama yang nanya. Tapi, tapi, yaudahlah, yang penting ada.

Kasi pensil. Selesai sudah percakapannya dengan suara berat itu.

"Thanks."

Hah? Dia bisa ngomong thanks? Dia, si Dika, pemuda dengan reputasi sangat buruk di mata Rahma?

Saking tertegun, Rahma hanya bisa diam, dan berusaha kembali fokus, walau setengah pikirannya berperang melawan prinsip pikirannya mengenai Dika selama ini.

Dika
Senyum nanar. Menatap pensil yang g sekeren pandangan keren ala Dika. Dia menatap lagi gadis tadi. Berpikir sejenak. Oke, Dika g tau itu siapa tadi.

Dika memperhatikan lagi. Rambutnya bagus, cuma g keurus aja.

Ada ya cewe yang begini ga meratiin rambut, rambut kan mahkota, pikir Dika sambil mengerucutkan bibirnya.

Dika melirik Desi, kulit putih mulus, rambut hitam sepundak bersinar. Jauh bener cewe itu sama cewe gue. Cewe gue lah paling bener, pikir Dika sambil senyum jahil. Dika berusaha meraih tangan Desi dan gagal karena dosen lewat.

Gagal, kecewa g berhasil pegang tangan Desi yang hanya 20 cm dari tangannya, Dika memainkan pensil ditangannya ala pemain drum profesional, walaupun kelihatannya sih tetep ngga ada profesionalnya. Detik itulah dia memperhatikan, ada nama terukir di sana, "R a h m a".

Oh. Rahma.

"Yuk keluar." lirih Desi mengaburkan lamunan Dika. Ternyata. Demi apapun, kelas sudah selesai, dan Dika ga merasa sedikit pun ada kelas tadi. Yah, yasudah. Dika menutup binder file yang dia beli buat catatan kuliah, atau bisalah, jadi ajang coretan.

****
Entah ada angin apa, Dika menatap pensil itu, ragu sesaat, dan berakhir dengan memasukkan juga pensilnya ke dalam tas. Meninggalkan si gadis pemilik sahnya, tercengang dan terpaksa menelan kemungkinan, pensilnya tidak akan kembali. Gadis itu hanya bisa menunduk dan menyesal sekaligus bersyukur sambil berguman kecil, "Untung bukan pensil bagus. HAHA".

SUMPAH. Masalah pensil ini super lebay. Tapi bagi mahasiswa, pensil itu memang crusial.

-tobe continue, From Ear to Brain part II

Sunday, 3 March 2013

From Heart to Heart

See me in the eyes.
You will know how much I love you.
You will see my tears, when I walk away from you.


Galau. Segalau-galaunya kucing tetangga. Desi paling galau. Gimana ya rasanya, bersama seseorang tapi dia ga ngerti kalau kita bersama dia? 

Oke, oke. Desi bukan pacarnya. Desi bahkan bukan apa-apanya. Desi cuma kebetulan suka sama dia dan dia kebetulan suka sama Desi, tapi ga bisa banget walau negeri api menyerang dan Belanda balik lagi, bersama karena iman yang berbeda, kaya kata Marcell-Peri Cinta. Ini masalah besar. Serius. 

Desi jadi luluh lantah tak bisa berbuat apa-apa setiap kali sang arjuna hadir dan membutakan langkah sehingga tidak tahu arah jalan pulang. Cinta Desi sama Sang Arjuna kelewat besar sampai mencapai langit ke-7. Sedih sekali, pilu dan ngilu bersatu. 

Apa ya, yang harus dilakukan Desi? Forget it, and walk away? Ya, itu yang akan dalam rencana, dan sungguh akan berusaha dilakukan Desi. 

Sakit memang, tapi ini untuk kebaikan kedua pihak, hubungan yang tidak ada masa depannya ini, harus dihentikan sebelum semuanya terlambat -just saying- tapi bagaimana dengan pasangan beda keyakinan? Banyak artis, sebut saja Lidya Kandau dan Suami, Christian Sugiono dan Titi Kamal, bisa bersatu dan langgeng sampai sekarang ini. 

Orang tua Desi sangat menentang, dan Desi tidak memberontak, memang salah yang dilakukannya sekarang. Tunggu, memang Desi berbuat apa? Tidak ada.

Maksudnya tidak ada? 
Sejak Sang Arjuna menyatakan perasaannya hingga detik ini, Desi masih diperlakukan sama seperti sebelumnya. Arjuna sangat sibuk dan tidak jarang mereka tidak berkomunikasi seminggu, dua minggu. Arjuna juga tidak pernah memberikan harapan lebih, hanya mengatakan, "Jika kamu memang buat aku, semuanya akan dipermudah kok." Hanya satu, Desi jatuh hati pada pemuda yang tepat, keyakinan yang beda.

Entah sedih atau senang, Desi memang memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Arjunanya, walaupun Ia tau Arjuna-nya akan selalu menjadi Arjuna hatinya, untuk waktu yang sangat lama. Penyesalan mungkin akan terjadi, tapi keputusan Desi kuat. IA TIDAK AKAN MENGHUBUNGI LAGI ARJUNA, langit dan bintang menjadi saksinya. Yah, setidaknya hari ini. Besok, lihatlah besok, Desi merasa seperti Butiran Debu tanpa Arjuna.

Desi bukan tidak ada peminat, peminatnya sangat banyak, menumpuk dan bahkan seminggu satu, pasti ada. Tapi apa boleh dikata, rumput yang bergoyang pun tau, hati Desi hanya milik Arjuna. 

Hanya bisa berdoa saja, di sini, untuk Desi dan Arjuna. Semoga ada jalan yang tidak terlalu menyakitkan untuk berpisah dan semoga tetap teman. Ga kaya pasangan lain, yang berakhir menjadi stranger

Endless story, pray for DA.

Read next : From Ear to Brain part I